BUKAN BAPAK BIASA
Semua manusia pasti berstatus sebagai
anak dari orangtuanya, yang perlu kita tahu sebagai anak kita tidak bisa
memilih mau keluar dari rahim siapa. Jika bisa memilih pastilah semua manusia
memilih dari keluarga yang kaya, harmonis, dan sejahtera. Aku harus bersyukur
keluar dari rahim ibu yang mengurus aku dari kecil hingga dewasa dengan kasih
sayangnya, dan aku lebih bersyukur mempunyai bapak yang benar-benar berperan
sebagai bapak hingga aku dewasa. Bukan hal yang tabu banyak bapak yang tidak berperan
sebagai bapak semestinya. Kasus-kasus perceraian orang tua yang menyebabkan
anak kehilangan sosok orangtuanya entah itu ibu atau ayahnya.
Bapak aku setia orangnya benar-benar
sangat setia, bapak menikah dengan mama yang sudah berstatus janda anak 1. Tapi
itu bukan masalah untuk bapak bisa dibilang bapak itu “kutunggu jandamu” ke
mama. Karena kata mereka memang awalnya pacaran lalu mama aku menikah dengan
pria lain yang ternyata jodohnya tidak lama, mungkin memang bapak lah jodohnya.
Memimpikan mempunyai suami seperti bapak adalah salah satu cita-citaku sejak
mengerti tentang jodoh.
Dari aku kecil bapak adalah sosok yang
pengertian. Menjadi anak, bapak tergolong anak yang baik. Nenek dari bapak memiliki
anak 2 dan anak pertamanya adalah bapak aku, yang kedua perempuan dan menikah
dengan orang luar pulau Jawa selama 20 tahun baru main kerumah sekali, kenapa kerumah?
karena nenek dari bapak tinggal bersama dengan aku. Jika dilihat sebagai
menantu bapak juga tergolong menjadi menantu yang baik terhadap mertuanya.
Dari segi pekerjaan bapak juga
termasuk orang yang sabar, dulu sewaktu aku bayi sampai berumur 3 atau 4
tahunan bapak sudah mejadi karyawan disuatu perusahaan yang bonafit. Tapi ada kejadian
dimana bapak harus mengundurkan diri dari kerjaan karena menurut keluarga kami
bapak terkena fitnah oleh temannya sendiri, dibuat kerjanya tidak betah dan
mungkin jalan lebih baik adalah mengundurkan diri. Setelah mengundurkan diri
bapak tidak langsung kerja sempat menganggur. Dan alhamdulillah bapak mendapatkan
pekerjan lagi tapi beda dengan pekerjaan yang dahulu bapak menjadi Office Boy
di suatu perusahaan Outsourcing yang bertugas di Pertamina, kalo kita pikir
dari seorang karyawan yang sudah lumayan enak kerjanya lalu menjadi Office Boy
dengan bayaran harian lepas tapi tetap bapak jalanin dengan upah kurang lebih
Rp.500.000 per bulan pada tahun 2002. Pada saat 2003 aku mulai masuk SD, dengan
penghasilan Rp.500.000 per bulan untuk menghidupi 2 anak yang masih kecil pada
saat itu juga bapak rela kerja 2 kali. Di Office Boy bapak kena sistem shift
jika bapak masuk pagi pulang sore maka bapak sempat tidur dulu lalu malam jam
12 lalu berangkat lagi untuk menjadi waiters di suatu bar dan harus pulang pagi
lalu lanjut kerja lagi sebagai OB, jika masuk sore bapak pulang malam langsung
berangkat kerja di bar tersebut dan tidur dipagi hari untuk sore berangkat lagi.
Dan itu dijalanin sampai beberapa tahun kedepan tidak sampai aku masuk SMP.
Tapi lambat laun bapak tidak menjadi OB lagi naik menjadi bagian Sampling
alhamdulillah dan sudah tidak bekerja sebagai waiters lagi.
Banyak kenangan yang melekat
diingatan, sampai sebesar ini pun masih teringat disetiap detailnya kenangan
bersama bapak. Dari mulai sering ikut bapak main bola sampai ikut acara
gathering dari kerjaan bapak. Ingat ketika SD kelas 5 aku punya tabungan di
wali kelas dan pada hari itu tabungan aku diambil oleh mama tanpa bilang dulu
dengan aku. Ada perasaan marah karena biar gimana pun harusnya bilang dahulu
sama aku. Pada saat hari tabungan ku diambil oleh mama dan sorenya sepulang aku
sekolah bapak aku jemput. Aku sekolah siang jadi pulang sore dan disaat bapak
jemput aku sedang main pasangan bisa dibilang judi, itu main judi untuk sekali-kalinya
selama aku sekolah 12 tahun. Ada juga mungkin ketika aku kecil ini bukan kisah
haru tapi setelah diingat ketika sudah dewasa menjadi mengharukan ingatan yang
ini, ketika itu sepertinya mama sedang berantem namanya rumah tangga. Mama aku
pergi kerumah sodara di Bogor dengan adikku dan aku dirumah hanya dengan bapak
dan nenek. Aku minta makan di CFC yang tidak jauh dari rumah trus bapak
nurutin, dulu bapak belum punya motor jadi aku dan bapak naik sepeda ke CFCnya.
Ketika di CFC ternyata hanya memesan 1 menu dan hanya untuk aku. Ketika aku
makan pun bapak hanya melihat aku makan padahal aku sudah menawarkan makan
bersama tapi bapak menolak dengan bilang “udah mbak aja yang makan”. Kalau
diingat sekarang rasanya mengharukan, segitunya ingin menuruti keinginan anak
perempuan satu-satunya. Pada saat SMP pun bapak masih dengan kemanisannya,
ketika SMP aku sekolah mengendarai sepeda karena jarak rumah dengan sekolah
cukup jauh kalau naik angkutan umum pun harus 2 kali karena kurang strategis
letak sekolahnya. Mungkin bapak berpikir aku naik angkutan umum kesekolah
karena bapak aku kerja pagi dan ketika kelas 1 SMP aku masuk siang jadi bapak
tidak tau aku kesekolah naik apa, padahal aku mengerndarai sepeda untuk
kesekolah. Sore harinya sepulang sekolah bapak dengan motor dan masih pakai
seragam kerjanya sudah ada di depan gerbang sekolah dan bapak melihat aku
membawa sepeda lantas aku bilang “bapak ngapain? Orang aku bawa sepeda. Emang
bapak gak pulang dulu?”. Dengan nyengirnya bapak bilang “kirain naik angkutan”.
Aku tertawa segitunya bapak padahal kerjaan dengan rumah itu dekat kalau mau
jemput pun masih sempat jika pulang dahulu kerumah baru jemput aku tapi bapak
tidak pulang, bapak langsung kesekolah takut aku menunggu lama. Akhirnya bapak
aku suruh duluan.
Keluarga kami secara ekonomi sejak aku
sekolah SD hingga SMK benar-benar menguji bapak dan mama. Mama pernah bilang
“kalau mama sama bapak gak kuat-kuat mungkin sudah cerai”. Tapi alhamdulillah
bapak dan mama hubungannya tetap harmonis dari dulu mungkin kata itu hanya
ungkapan atas ujian yang telah mereka lalui bersama. Bagaimana tidak? Mama dan
bapak sampai harus jual rumah yang sudah dibangun dengan uang hasil
mengundurkan diri bapak dulu. Tapi kami sempat beli rumah lagi dengan ukuran
lebih kecil sejenis kontrakan 3 petak dan rumah itu tidak lama harus terjual
lagi, jual murah karena butuh, kami tinggal dirumah nenek dari mama ini lebih
sempit lagi karena bukan 3 petak tapi 1 petak benar-benar hanya sekotak dengan kamar mandi didalam untuk 5 orang yang
tinggal. Penyebabnya adalah karena mama terlilit hutang rentenir, padahal gaya
hidup kami bukan yang suka foya-foya beli baju pun hanya setahun sekali saat
lebaran, makan pun kami beli 1 pecel ayam untuk dibagi 4 karena nenek dari
bapak ikut kerja dengan tukang nasi uduk jadi dapat makan dari tukang nasi
uduk. Benar-benar sangat sederhana, yang membuat aku bingung sampai sekarang
kenapa bisa sebesar itu hutangnya sampai rumah harus terjual dan kami menjadi
kontraktor alias rumahnya ngontrak. Itulah kejamnya hutang dengan rentenir
awalnya sedikit tapi bunganya benar-benar membukit. Tidak enak tinggal dengan
nenek di rumah 1 petak membuat bapak mencari kontrakan yang 3 petak biar lebih
lapang. Oh iya nenek ikut saudara jauhnya untuk mengasuh anaknya di Surabaya
kasarnya jadi babysitter halusnya ikut saudara. Jadi kami hanya tinggal
berempat dikontrakan 3 petak tidak tega sebenarnya membiarkan nenek ikut saudara
jauh sampai harus ke Surabaya, karena nenek aku agak judes orangnya kurang baik
hubungan sama mama aku.
Rumah sudah terjual dan kami pun sudah
tidak punya rumah ibarat diusir dari kampung sendiri. Suatu ketika namanya
kontraktor kami pindah sampai 3 kali pindah kontrakan yang pertama kontrakannya
seram karena benar-benar pojok dan tidak ada cahaya matahari kalau menjemur
pakaian pun 3 hari bener-bener baru kering. Tidak lama kami pindah dikontrakan
yang depan jalan, cukup lama kami tinggal disini dari aku SMP kelas 2 hingga
aku SMK kelas 2. Ketika mau pindah dari kontrakan yang depan jalan aku sedang
Prakerin dari sekolah di Cileungsi, ini benar-benar parah menurut aku karena
aku tidak dikasih tahu sama sekali. Aku ngekos di Cileungsi disediakan oleh PT
nya dan aku pulang ke Jakarta hari Jum’at sore. Aku baru dikabarin sama mama
Jum’at sore ketika mau pulang dengan sms “Jangan pulang ke kontrakan pinggir
jalan, baru pindah deket nenek dari mama lagi”. Respon aku saat itu menangis,
aku masih sebagai anaknya tapi kabar sepenting ini dikabarin ketika mau pulang
ke Jakarta. Aku berpikir untuk tidak pulang biar tetap di kosan saja biar
minggu depan baru pulang tapi mikir lagi dikosan sendirian karena tiap Jum’at
sore sampai Senin pagi kosan sepi karena anak prakerin pulang semua ke Jakarta.
Dengan terpaksa aku pulang menurut petunjuk dari mama rumahnya dimana, karena
aku belum tahu pastinya kontrakannya dimana lagi.
Tidak lama kami mengontrak di dekat
rumah nenek, ini lebih nyaman kontrakannya. Mama memutuskan pindah karena
kontrakan pinggir jalan tuan rumahnya pelit air, jika mau mengisi air diwaktuin
10 menit. Kalo sudah subuh air sudah sisa dikit jadi benar-benar irit karena
yang punya rumah pelit. Dikontrakan baru yang dekat nenek alhamdulillah ada
kabar baik karena bapak dan mama selagi di kontrakan pinggir jalan sempat
mengajukan perumahan bersubsidi di daerah Bekasi dan baru di acc ketika kami
sudah di kontrakan dekat rumah nene, sempat khawatir tidak di acc karena usia
bapak yang sudah tidak muda lagi untuk mengambil perumahan. Satu tahun kami
tinggal dikontrakan dekat rumah nenek. Akhirnya bapak memutuskan untuk
menempati perumahan bersubsidi itu, ketika itu aku masih sekolah SMK kelas 3
bentar lagi ujian dan adik masih SMP kelas 2. Aku ikut ke Bekasi tapi adik
harus tinggal dengan nenek dari mama yang rumahnya dekat dengan kontrakan kita
yang terakhir.
Bukan hal mudah pindah ke perumahan
baru bersubsidi lagi, jalanan yang masih jelek, jalan yang tanpa lampu, serta
harus melewati sawah terlebih dahulu jika ingin masuk ke perumahan maklum Dpnya
murah. Awalnya mama tidak betah karen benar-benar sepi sekali, perumahan baru
jadi baru ada 3-5 keluarga yang tinggal karena yang kami tempati blok baru
jadi. Samping kanan-kiri masih kosong, belakang rumah masih sawah samping kiri
rumah mama pun masih sawah, karena mama orang nya penakut jadi pengen balik
lagi ke kontrakan yang dulu menyesal telah pindah. Awal pindah motor kami hanya
1 yaitu honda revo, si revo ini primadona karena benar-benar sangat dibutuhkan
oleh bapak untuk transportasi ke kerjaan dan mengantar aku sekolah. Tidak
jarang kami harus berbonceng 3, aku mama dan bapak, aku adik dan bapak, atau
bapak mama dan adik. Itu kita lalui dengan sabar. Suatu ketika aku pernah menangis
karena bapak berangkat kerja dari sore pulang pagi dan tidak bisa mengantar aku
ke sekolah alhasil aku tidak sekolah karena tidak ada motor karena rumah aku di
Bekasi dan aku sekolah di Jakarta utara paling ujung tidak ada kendaraan umum
belum ada ojek online saat itu. Pernah juga bapak aku kerja ikut temannya yang
tinggal diperumahan bersubsidi juga serta 1 kerjaan juga karena motornya
dipakai aku agar aku bisa tetap sekolah. Bapakku kerjanya sistem shift tidak
jarang aku ikut beliau pulang malam dan pagi harus sekolah lagi.
Ketika baru pindah ke perumahan
bersubsidi awal tahun 2015 itu banjir besar melanda perumahan yang baru aku
tempati, pengalaman banjir terparah yang pernah aku alami karena 4 hari air
baru surut dari rumah. Aku terpaksa tidak sekolah 3 hari karena motor tidak
bisa melewati air yang terlalu tinggi, motor satu-satunya jika rusak tidak ada
lagi kendaraan yang bisa dipakai. Tapi alhamdulillah sekarang jika banjir tidak
sampai masuk kerumah.
Akhirnya aku lulus sekolah SMK, lega
rasanya. Acara wisuda pun tiba, bajuku hanya minjam kebaya dari saudara serta
tanpa riasan wajah sedikitpun. Aku diantar bapak, saat itu hari sabtu bapak
sedang tidak lembur dan mama sedang pergi kerumah saudara seingatku. Saat
dijemput dengan masih menggunakan kebaya dan rok kain spannya, untuk duduk naik
motor pun sedikit susah dan bapak pada saat itu justru membeli burung dara. Aku
sebal karena beli burung itu bukan kaya beli benda mati, dia bergerak-gerak
namanya makhluk hidup. Aku bilang sama bapak “Yah entaran ke pak beli burungnya
kalo ga lagi pake kebaya”. Aku juga mengadu ke mama, tanggapan mama pun sama
“Orang anak nya lagi pake kebaya ada-ada aja malah beli burung”. Bapak hanya
balas dengan nyengir khasnya.
Setelah lulus aku tidak berpikir untuk
melanjutkan kuliah karena aku ingin bantu bapak, masih ada sisa-sisa hutang
dahulu. Aku memutuskan untuk kerja dahulu. Tidak lama aku mendapatkan kerjaan yang
lumayan. Gaji pertamaku buat qurban kambing saat itu, dan hal yang ingin sangat
aku punya adalah motor sendiri karena letak rumahku yang amat jauh membuat
sulit jika ingin kemana-mana dan tidak mau merepotkan bapak terus. Awal kerja
hingga aku mengkredit motor aku masih diantar jemput sama bapak yang setia.
Akupun kerja dengan sistem shift jika aku masuk sore padahal aku kerja membawa
motor tapi untuk pulang malam jam 12 bapak dan mama rela jauh-jauh dari Bekasi
ke Pulogadung untuk menjemput anak perempuan satu-satunya. Tentunya hal ini
sedikit menjadi lelucon untuk teman kerja senior.
Jadi ceritanya setelah kredit motor
yang aku ambil sudah lunas, mumpung aku masih kerja aku mau ngasih bapak motor.
Aku, mama, dan bapak diskusi yasudah tidak apa jika ingin mengkredit yang baru
karena motor bapak yang revo sudah mati lama surat stnk dan plat nomernya,
bukan tidak ingin bayar pajak tapi motor revo dahulu motor bekas atas namanya
masih punya yang dahulu sulit untuk mengurus suratnya. Akhir november motor baru
yang aku kredit turun dan bulan desember bapak ada gathering tiap tahun dari
kerjaannya, tapi gathering kali ini tidak ajak keluarga karena jauh ke Belitung
bapak bilang tempat main filmnya Laskar pelangi. Kalau ajak keluarga pasti
lebih seru dan bapak bilang “Ini dorprisenya motor” aku dan mama kompak
menjawab “bapak mah paling dapatnya payung kalo ga topi”. Percakapan sebelum
berangkat.
Pada saat malam bapak di Belitung,
bapak sms “dapet motor” mama teriak saat itu karena sudah malam, aku sudah
tidur pun terbangun dengan teriakan mama. aku meminta mama nelfon bapak tapi
nomor bapak langsung tidak aktif. Dan kabar itu jelasnya hanya dengan menunggu
bapak pulang. Bapak akhirnya pulang dengan membawa simbolis kunci besar, aku
mikir motor yang baru pun platnya belum turun ini alhamdulillah dapat motor
gratis. Sempat ingin mengembalikan motor yang baru aku kredit tapi kata mama
bisa buat adik yasudah motor yang pertama aku dipakai adik, aku memakai motor
baru, bapak juga memakai motor baru. Alhamdulillah perjuangan sabar bapak dan
mama berbuah hasil yang manis dahulu kami hanya punya motor 1 sekarang kami
sudah bisa memakai motor satu-satu.
Tahun demi tahun pun kami lewati
diperumahan bersubsidi, alhamdulillah hutang pun sudah tidak banyak seperti
dahulu. Ekonomi keluarga perlahan membaik nenek dari bapak sudah tidak ikut saudara
di Surabaya, nenek sekarang tinggal di Bekasi bersama kami dan sikap nenek
sudah membaik juga sudah tidak terlalu judes. Bapak pun sudah lumayan gajinya
karena sering lembur. Tapi yang tidak berubah dari bapak adalah tetap sederhana
meskipun sudah berpenghasilan cukup.
Akupun kerja sambil kuliah akhirnya, aku tidak nuntut ke bapak untuk minta
dikuliahkan, kuliah dengan penghasilan sendiri. Adik pun tahun ini masuk
universitas swasta, bapak benar-benar ingin adik kuliah karena adik lelaki jadi
mungkin nanti punya tanggung jawab lebih.
Teruntuk bapak entah percaya atau
tidak untuk menulis ini mataku sembab mengingat kenangan yang kita jalanin dari
aku kecil sampai sebesar ini. Aku tetaplah putri kecil dihadapanmu, aku
sangat-sangat berterima kasih karena telah berperan sebagai bapak yang baik
untuk anak perempuan yang sering ngambek. Salam rindu dari anak perempuan
satu-satunya.
15
September 2019
