Minggu, 15 September 2019

Bukan Bapak Biasa


         
          BUKAN BAPAK BIASA

          Semua manusia pasti berstatus sebagai anak dari orangtuanya, yang perlu kita tahu sebagai anak kita tidak bisa memilih mau keluar dari rahim siapa. Jika bisa memilih pastilah semua manusia memilih dari keluarga yang kaya, harmonis, dan sejahtera. Aku harus bersyukur keluar dari rahim ibu yang mengurus aku dari kecil hingga dewasa dengan kasih sayangnya, dan aku lebih bersyukur mempunyai bapak yang benar-benar berperan sebagai bapak hingga aku dewasa. Bukan hal yang tabu banyak bapak yang tidak berperan sebagai bapak semestinya. Kasus-kasus perceraian orang tua yang menyebabkan anak kehilangan sosok orangtuanya entah itu ibu atau ayahnya.
          Bapak aku setia orangnya benar-benar sangat setia, bapak menikah dengan mama yang sudah berstatus janda anak 1. Tapi itu bukan masalah untuk bapak bisa dibilang bapak itu “kutunggu jandamu” ke mama. Karena kata mereka memang awalnya pacaran lalu mama aku menikah dengan pria lain yang ternyata jodohnya tidak lama, mungkin memang bapak lah jodohnya. Memimpikan mempunyai suami seperti bapak adalah salah satu cita-citaku sejak mengerti tentang jodoh.
          Dari aku kecil bapak adalah sosok yang pengertian. Menjadi anak, bapak tergolong anak yang baik. Nenek dari bapak memiliki anak 2 dan anak pertamanya adalah bapak aku, yang kedua perempuan dan menikah dengan orang luar pulau Jawa selama 20 tahun baru main kerumah sekali, kenapa kerumah? karena nenek dari bapak tinggal bersama dengan aku. Jika dilihat sebagai menantu bapak juga tergolong menjadi menantu yang baik terhadap mertuanya.
          Dari segi pekerjaan bapak juga termasuk orang yang sabar, dulu sewaktu aku bayi sampai berumur 3 atau 4 tahunan bapak sudah mejadi karyawan disuatu perusahaan yang bonafit. Tapi ada kejadian dimana bapak harus mengundurkan diri dari kerjaan karena menurut keluarga kami bapak terkena fitnah oleh temannya sendiri, dibuat kerjanya tidak betah dan mungkin jalan lebih baik adalah mengundurkan diri. Setelah mengundurkan diri bapak tidak langsung kerja sempat menganggur. Dan alhamdulillah bapak mendapatkan pekerjan lagi tapi beda dengan pekerjaan yang dahulu bapak menjadi Office Boy di suatu perusahaan Outsourcing yang bertugas di Pertamina, kalo kita pikir dari seorang karyawan yang sudah lumayan enak kerjanya lalu menjadi Office Boy dengan bayaran harian lepas tapi tetap bapak jalanin dengan upah kurang lebih Rp.500.000 per bulan pada tahun 2002. Pada saat 2003 aku mulai masuk SD, dengan penghasilan Rp.500.000 per bulan untuk menghidupi 2 anak yang masih kecil pada saat itu juga bapak rela kerja 2 kali. Di Office Boy bapak kena sistem shift jika bapak masuk pagi pulang sore maka bapak sempat tidur dulu lalu malam jam 12 lalu berangkat lagi untuk menjadi waiters di suatu bar dan harus pulang pagi lalu lanjut kerja lagi sebagai OB, jika masuk sore bapak pulang malam langsung berangkat kerja di bar tersebut dan tidur dipagi hari untuk sore berangkat lagi. Dan itu dijalanin sampai beberapa tahun kedepan tidak sampai aku masuk SMP. Tapi lambat laun bapak tidak menjadi OB lagi naik menjadi bagian Sampling alhamdulillah dan sudah tidak bekerja sebagai waiters lagi.
          Banyak kenangan yang melekat diingatan, sampai sebesar ini pun masih teringat disetiap detailnya kenangan bersama bapak. Dari mulai sering ikut bapak main bola sampai ikut acara gathering dari kerjaan bapak. Ingat ketika SD kelas 5 aku punya tabungan di wali kelas dan pada hari itu tabungan aku diambil oleh mama tanpa bilang dulu dengan aku. Ada perasaan marah karena biar gimana pun harusnya bilang dahulu sama aku. Pada saat hari tabungan ku diambil oleh mama dan sorenya sepulang aku sekolah bapak aku jemput. Aku sekolah siang jadi pulang sore dan disaat bapak jemput aku sedang main pasangan bisa dibilang judi, itu main judi untuk sekali-kalinya selama aku sekolah 12 tahun. Ada juga mungkin ketika aku kecil ini bukan kisah haru tapi setelah diingat ketika sudah dewasa menjadi mengharukan ingatan yang ini, ketika itu sepertinya mama sedang berantem namanya rumah tangga. Mama aku pergi kerumah sodara di Bogor dengan adikku dan aku dirumah hanya dengan bapak dan nenek. Aku minta makan di CFC yang tidak jauh dari rumah trus bapak nurutin, dulu bapak belum punya motor jadi aku dan bapak naik sepeda ke CFCnya. Ketika di CFC ternyata hanya memesan 1 menu dan hanya untuk aku. Ketika aku makan pun bapak hanya melihat aku makan padahal aku sudah menawarkan makan bersama tapi bapak menolak dengan bilang “udah mbak aja yang makan”. Kalau diingat sekarang rasanya mengharukan, segitunya ingin menuruti keinginan anak perempuan satu-satunya. Pada saat SMP pun bapak masih dengan kemanisannya, ketika SMP aku sekolah mengendarai sepeda karena jarak rumah dengan sekolah cukup jauh kalau naik angkutan umum pun harus 2 kali karena kurang strategis letak sekolahnya. Mungkin bapak berpikir aku naik angkutan umum kesekolah karena bapak aku kerja pagi dan ketika kelas 1 SMP aku masuk siang jadi bapak tidak tau aku kesekolah naik apa, padahal aku mengerndarai sepeda untuk kesekolah. Sore harinya sepulang sekolah bapak dengan motor dan masih pakai seragam kerjanya sudah ada di depan gerbang sekolah dan bapak melihat aku membawa sepeda lantas aku bilang “bapak ngapain? Orang aku bawa sepeda. Emang bapak gak pulang dulu?”. Dengan nyengirnya bapak bilang “kirain naik angkutan”. Aku tertawa segitunya bapak padahal kerjaan dengan rumah itu dekat kalau mau jemput pun masih sempat jika pulang dahulu kerumah baru jemput aku tapi bapak tidak pulang, bapak langsung kesekolah takut aku menunggu lama. Akhirnya bapak aku suruh duluan.
          Keluarga kami secara ekonomi sejak aku sekolah SD hingga SMK benar-benar menguji bapak dan mama. Mama pernah bilang “kalau mama sama bapak gak kuat-kuat mungkin sudah cerai”. Tapi alhamdulillah bapak dan mama hubungannya tetap harmonis dari dulu mungkin kata itu hanya ungkapan atas ujian yang telah mereka lalui bersama. Bagaimana tidak? Mama dan bapak sampai harus jual rumah yang sudah dibangun dengan uang hasil mengundurkan diri bapak dulu. Tapi kami sempat beli rumah lagi dengan ukuran lebih kecil sejenis kontrakan 3 petak dan rumah itu tidak lama harus terjual lagi, jual murah karena butuh, kami tinggal dirumah nenek dari mama ini lebih sempit lagi karena bukan 3 petak tapi 1 petak benar-benar hanya sekotak  dengan kamar mandi didalam untuk 5 orang yang tinggal. Penyebabnya adalah karena mama terlilit hutang rentenir, padahal gaya hidup kami bukan yang suka foya-foya beli baju pun hanya setahun sekali saat lebaran, makan pun kami beli 1 pecel ayam untuk dibagi 4 karena nenek dari bapak ikut kerja dengan tukang nasi uduk jadi dapat makan dari tukang nasi uduk. Benar-benar sangat sederhana, yang membuat aku bingung sampai sekarang kenapa bisa sebesar itu hutangnya sampai rumah harus terjual dan kami menjadi kontraktor alias rumahnya ngontrak. Itulah kejamnya hutang dengan rentenir awalnya sedikit tapi bunganya benar-benar membukit. Tidak enak tinggal dengan nenek di rumah 1 petak membuat bapak mencari kontrakan yang 3 petak biar lebih lapang. Oh iya nenek ikut saudara jauhnya untuk mengasuh anaknya di Surabaya kasarnya jadi babysitter halusnya ikut saudara. Jadi kami hanya tinggal berempat dikontrakan 3 petak tidak tega sebenarnya membiarkan nenek ikut saudara jauh sampai harus ke Surabaya, karena nenek aku agak judes orangnya kurang baik hubungan sama mama aku.
          Rumah sudah terjual dan kami pun sudah tidak punya rumah ibarat diusir dari kampung sendiri. Suatu ketika namanya kontraktor kami pindah sampai 3 kali pindah kontrakan yang pertama kontrakannya seram karena benar-benar pojok dan tidak ada cahaya matahari kalau menjemur pakaian pun 3 hari bener-bener baru kering. Tidak lama kami pindah dikontrakan yang depan jalan, cukup lama kami tinggal disini dari aku SMP kelas 2 hingga aku SMK kelas 2. Ketika mau pindah dari kontrakan yang depan jalan aku sedang Prakerin dari sekolah di Cileungsi, ini benar-benar parah menurut aku karena aku tidak dikasih tahu sama sekali. Aku ngekos di Cileungsi disediakan oleh PT nya dan aku pulang ke Jakarta hari Jum’at sore. Aku baru dikabarin sama mama Jum’at sore ketika mau pulang dengan sms “Jangan pulang ke kontrakan pinggir jalan, baru pindah deket nenek dari mama lagi”. Respon aku saat itu menangis, aku masih sebagai anaknya tapi kabar sepenting ini dikabarin ketika mau pulang ke Jakarta. Aku berpikir untuk tidak pulang biar tetap di kosan saja biar minggu depan baru pulang tapi mikir lagi dikosan sendirian karena tiap Jum’at sore sampai Senin pagi kosan sepi karena anak prakerin pulang semua ke Jakarta. Dengan terpaksa aku pulang menurut petunjuk dari mama rumahnya dimana, karena aku belum tahu pastinya kontrakannya dimana lagi.
          Tidak lama kami mengontrak di dekat rumah nenek, ini lebih nyaman kontrakannya. Mama memutuskan pindah karena kontrakan pinggir jalan tuan rumahnya pelit air, jika mau mengisi air diwaktuin 10 menit. Kalo sudah subuh air sudah sisa dikit jadi benar-benar irit karena yang punya rumah pelit. Dikontrakan baru yang dekat nenek alhamdulillah ada kabar baik karena bapak dan mama selagi di kontrakan pinggir jalan sempat mengajukan perumahan bersubsidi di daerah Bekasi dan baru di acc ketika kami sudah di kontrakan dekat rumah nene, sempat khawatir tidak di acc karena usia bapak yang sudah tidak muda lagi untuk mengambil perumahan. Satu tahun kami tinggal dikontrakan dekat rumah nenek. Akhirnya bapak memutuskan untuk menempati perumahan bersubsidi itu, ketika itu aku masih sekolah SMK kelas 3 bentar lagi ujian dan adik masih SMP kelas 2. Aku ikut ke Bekasi tapi adik harus tinggal dengan nenek dari mama yang rumahnya dekat dengan kontrakan kita yang terakhir.
          Bukan hal mudah pindah ke perumahan baru bersubsidi lagi, jalanan yang masih jelek, jalan yang tanpa lampu, serta harus melewati sawah terlebih dahulu jika ingin masuk ke perumahan maklum Dpnya murah. Awalnya mama tidak betah karen benar-benar sepi sekali, perumahan baru jadi baru ada 3-5 keluarga yang tinggal karena yang kami tempati blok baru jadi. Samping kanan-kiri masih kosong, belakang rumah masih sawah samping kiri rumah mama pun masih sawah, karena mama orang nya penakut jadi pengen balik lagi ke kontrakan yang dulu menyesal telah pindah. Awal pindah motor kami hanya 1 yaitu honda revo, si revo ini primadona karena benar-benar sangat dibutuhkan oleh bapak untuk transportasi ke kerjaan dan mengantar aku sekolah. Tidak jarang kami harus berbonceng 3, aku mama dan bapak, aku adik dan bapak, atau bapak mama dan adik. Itu kita lalui dengan sabar. Suatu ketika aku pernah menangis karena bapak berangkat kerja dari sore pulang pagi dan tidak bisa mengantar aku ke sekolah alhasil aku tidak sekolah karena tidak ada motor karena rumah aku di Bekasi dan aku sekolah di Jakarta utara paling ujung tidak ada kendaraan umum belum ada ojek online saat itu. Pernah juga bapak aku kerja ikut temannya yang tinggal diperumahan bersubsidi juga serta 1 kerjaan juga karena motornya dipakai aku agar aku bisa tetap sekolah. Bapakku kerjanya sistem shift tidak jarang aku ikut beliau pulang malam dan pagi harus sekolah lagi.
          Ketika baru pindah ke perumahan bersubsidi awal tahun 2015 itu banjir besar melanda perumahan yang baru aku tempati, pengalaman banjir terparah yang pernah aku alami karena 4 hari air baru surut dari rumah. Aku terpaksa tidak sekolah 3 hari karena motor tidak bisa melewati air yang terlalu tinggi, motor satu-satunya jika rusak tidak ada lagi kendaraan yang bisa dipakai. Tapi alhamdulillah sekarang jika banjir tidak sampai masuk kerumah.
          Akhirnya aku lulus sekolah SMK, lega rasanya. Acara wisuda pun tiba, bajuku hanya minjam kebaya dari saudara serta tanpa riasan wajah sedikitpun. Aku diantar bapak, saat itu hari sabtu bapak sedang tidak lembur dan mama sedang pergi kerumah saudara seingatku. Saat dijemput dengan masih menggunakan kebaya dan rok kain spannya, untuk duduk naik motor pun sedikit susah dan bapak pada saat itu justru membeli burung dara. Aku sebal karena beli burung itu bukan kaya beli benda mati, dia bergerak-gerak namanya makhluk hidup. Aku bilang sama bapak “Yah entaran ke pak beli burungnya kalo ga lagi pake kebaya”. Aku juga mengadu ke mama, tanggapan mama pun sama “Orang anak nya lagi pake kebaya ada-ada aja malah beli burung”. Bapak hanya balas dengan nyengir khasnya.
          Setelah lulus aku tidak berpikir untuk melanjutkan kuliah karena aku ingin bantu bapak, masih ada sisa-sisa hutang dahulu. Aku memutuskan untuk kerja dahulu. Tidak lama aku mendapatkan kerjaan yang lumayan. Gaji pertamaku buat qurban kambing saat itu, dan hal yang ingin sangat aku punya adalah motor sendiri karena letak rumahku yang amat jauh membuat sulit jika ingin kemana-mana dan tidak mau merepotkan bapak terus. Awal kerja hingga aku mengkredit motor aku masih diantar jemput sama bapak yang setia. Akupun kerja dengan sistem shift jika aku masuk sore padahal aku kerja membawa motor tapi untuk pulang malam jam 12 bapak dan mama rela jauh-jauh dari Bekasi ke Pulogadung untuk menjemput anak perempuan satu-satunya. Tentunya hal ini sedikit menjadi lelucon untuk teman kerja senior.
          Jadi ceritanya setelah kredit motor yang aku ambil sudah lunas, mumpung aku masih kerja aku mau ngasih bapak motor. Aku, mama, dan bapak diskusi yasudah tidak apa jika ingin mengkredit yang baru karena motor bapak yang revo sudah mati lama surat stnk dan plat nomernya, bukan tidak ingin bayar pajak tapi motor revo dahulu motor bekas atas namanya masih punya yang dahulu sulit untuk mengurus suratnya. Akhir november motor baru yang aku kredit turun dan bulan desember bapak ada gathering tiap tahun dari kerjaannya, tapi gathering kali ini tidak ajak keluarga karena jauh ke Belitung bapak bilang tempat main filmnya Laskar pelangi. Kalau ajak keluarga pasti lebih seru dan bapak bilang “Ini dorprisenya motor” aku dan mama kompak menjawab “bapak mah paling dapatnya payung kalo ga topi”. Percakapan sebelum berangkat.
          Pada saat malam bapak di Belitung, bapak sms “dapet motor” mama teriak saat itu karena sudah malam, aku sudah tidur pun terbangun dengan teriakan mama. aku meminta mama nelfon bapak tapi nomor bapak langsung tidak aktif. Dan kabar itu jelasnya hanya dengan menunggu bapak pulang. Bapak akhirnya pulang dengan membawa simbolis kunci besar, aku mikir motor yang baru pun platnya belum turun ini alhamdulillah dapat motor gratis. Sempat ingin mengembalikan motor yang baru aku kredit tapi kata mama bisa buat adik yasudah motor yang pertama aku dipakai adik, aku memakai motor baru, bapak juga memakai motor baru. Alhamdulillah perjuangan sabar bapak dan mama berbuah hasil yang manis dahulu kami hanya punya motor 1 sekarang kami sudah bisa memakai motor satu-satu.
          Tahun demi tahun pun kami lewati diperumahan bersubsidi, alhamdulillah hutang pun sudah tidak banyak seperti dahulu. Ekonomi keluarga perlahan membaik nenek dari bapak sudah tidak ikut saudara di Surabaya, nenek sekarang tinggal di Bekasi bersama kami dan sikap nenek sudah membaik juga sudah tidak terlalu judes. Bapak pun sudah lumayan gajinya karena sering lembur. Tapi yang tidak berubah dari bapak adalah tetap sederhana meskipun sudah berpenghasilan cukup. Akupun kerja sambil kuliah akhirnya, aku tidak nuntut ke bapak untuk minta dikuliahkan, kuliah dengan penghasilan sendiri. Adik pun tahun ini masuk universitas swasta, bapak benar-benar ingin adik kuliah karena adik lelaki jadi mungkin nanti punya tanggung jawab lebih.
          Teruntuk bapak entah percaya atau tidak untuk menulis ini mataku sembab mengingat kenangan yang kita jalanin dari aku kecil sampai sebesar ini. Aku tetaplah putri kecil dihadapanmu, aku sangat-sangat berterima kasih karena telah berperan sebagai bapak yang baik untuk anak perempuan yang sering ngambek. Salam rindu dari anak perempuan satu-satunya.

15 September 2019

Sabtu, 16 Maret 2019

Sebut Saja Kangen!


Hidup memang tidak selalu bahagia tapi kita perlu tau hidup juga bukan tentang selalu merasa kesedihan
Bahagia dan sedih itu hanya bagaimana kita melihat satu keadaan dari prespektif mana kita ingin melihat maka itu yang menjadi kita rasakan.
Manusia memang makhluk sosial yang selalu berinteraksi, dalam hidupnya dari tahun ke tahun semakin dia dewasa maka semakin dia banyak mengenal orang. Ada masa ketika dia merasa punya banyak sekali teman sampai mau main saja harus buat janji dan ada juga masa dia seakan akan dia tidak memiliki satu orang pun teman dalam hidupnya. Lagi-lagi jangan dulu menyalahkan seolah-olah dia dtinggalkan oleh teman-temannya bisa jadi dia sendiri yang enggan untuk bergabung lagi dengan teman-temannya. Yah aku hanya sibuk menyalahkan diriku sendiri yang terkesan angkuh untuk tidak menyapa duluan, sebenernya bukan enggan menyapa hanya saja kadang kita tau dimana kita harus menyapa. Teman-teman ku mungkin sedang sibuk dengan teman yang lainnya atau mungkin dengan pasangannya, so itu hak mereka karna mereka juga punya kehidupan masing-masing.
Dari tahun ke tahun mungkin memang kita merasa lebih banyak mengenal orang tapi harus diingat juga semakin kita tua teman kita juga mungkin akan habis satu per satu karna kesibukannya masing-masing.